Hari ini tepat tanggal 28 Oktober yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, biasanya hari ini orang memposting, menulis sesuatu dalam akun jejaring sosialnya, minimal mengucapkan “Selamat Hari Sumpah Pemuda”, tetapi entah kenapa hari ini kok sepi yah, (atau jangan-jangan saya yang kurang mengamati medsos), saya sih bukan juga yang tipe mengucapakan selamat selimit, kadang-kadang sih suka mengucapkan, kalau lagi inget. Atau mungkin orang-orang sedang terkesima dan sibuk mengomentari jajaran kabinet baru..ups
Yaa lupakan soal mengucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda, karena itu tidak terlalu penting juga. Yang terpenting sih bagaimana Refleksi dari Sumpah Pemuda 86 tahun yang lalu. Bagaimana meresapi setiap kata-kata yang akan biasa saja tapi mendalam jika dihayati dengan seksama. Begini kan yaa kata-katanya
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Bukan lagi masalah kata-katanya juga, tapi masalah perjuangan dan kebearanian para pemuda zaman dahulu yang membawa perubahan untuk bangsa saat itu dan terasa manfaatnya sampai sekarang.
Menyimak, mengamati pemuda-pemudi zaman dahulu entah kenapa saya terpesona dengan daya juangnya, sebut saja Marah Roesli (penulis novel siti nurbaya) dalam novel terakhirnya yang berjudul Memang Jodoh, diceritakan dalam novel tersebut sewaktu muda beliau berani berkata yang intinya kalau tidak salah begini cmiiw “Bagaimana saya bisa mewujudkan cita-cita saya untuk negara ini kalau saya hanya dipusingkan oleh perkara kawin” dari kata-kata tersebut saya menyimpulkan betapa dia memikirkan negaranya diatas kepentingan pribadinya. Bahkan saat setelah menikah dia rela hidup terpencil bersama istri dan anak-anaknya demi menjadi penyuluh pertanian.
Sebut lagi Jamin Ginting, yang diceritkaan dalam 3 Nafas Likas, film terbaru saat ini. Dia menajdi PETA (Pemuda Tanah Air) dan berjuang dalam melawan penjajahan dengan perasaan penuh cinta, bahkan saking sibuknya melawan penjajah, dia hanya sempat menulis surat Cinta pada sang tambatan hati Likas Tarigan sambil memegang senjata dan badan berlumur darah dan keringat. Bahkan saat itu sebut saja Likas Tarigan yang dalam masa-masa sulit ikut bersama suaminya dalam menghadapi penjajah dia masih sembunyi-sembunyi mengajar anak-anak dipinggir sungai, dia masih semangat menunaikan kewajibannya sebagai seorang guru. Dan ada lucu sekaligus haru juga dari Jamin Ginting, saat Indonesia sudah merdeka dja merasa tak ada pekerjaan, dia bilang saya ini biasa angkat sejata untuk memperjuangkan nasib negara.
Melihat sosok Habibie pun begitu saya terpesona dan terharu ketika pesawat pertama buatannya jadi dan siap terbang, saya mentesakan air mata ketika nonton adegan tersebut di filmnya, bahkan dalam sakit parahnya pun Habibie muda menulis surat yang kalau ga salah isinya kurang lebib begini "Izinkan saya hidup Tuhan karena saya berjanji akan memajukan bangsa dan tanah air ku" ahh ini juga adegan yang bikin saya menangis. Betapa bisanya mereka-meraka pemuda pemudi zaman dulu dalam masa sulitnya, dalam darah yg bercucur, dalam gencatan senjata, bahkan dalam keadaan nafas yang akan habis pun berani berjanji untuk memajukan bangsa dan tanah airnya.
Selagi momen sumpah pemuda ini masih hangat ga ada salahnya kita sebagai pemuda pemudi indonesia masa kini mencoba untuk terus berkarya, siapa tau secuil dari karya kita akan bermanfaat untuk kemajuan bangsa ini...MERDEKA
Selasa, 28 Oktober 2014
Minggu, 29 Desember 2013
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya rencana Tuhan
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya rencana
Tuhan. Begitu kira kata-kata yang kami perbincangkan bersama pagi ini. Setelah semalam
kita bertemu di sebuah gerbong khusus wanita di sebuah kereta api.
Takjub sih kok bisa kita dipertemukan kembali, sangat
kebetulan, eh tapi maaf kita bukan penganut kebetulan, kita penganut semua itu “Rencana
Tuhan”. Hal yang semalam terjadi pada kita itu memang hal kecil, tetapi itu
bagian dari cara kita mengimani rukun iman yang ke enam. Jadi setiap pertemuan
maupun perpisahan itu juga bagian dari rencana Tuhan. Dan ternyata doa-doa
ketika kita bertemu dengan seseorang itu perlu “semoga kita bertemu kembali ya”,
begitu yang saya katakana kepada teman saya saat bertemu kamis malam, dan
minggu malam pun kita dipertemukan kembali oleh Tuhan, sekali lagi bukan
kebetulan.
(Berbagi sedikit tentang prinsip yg kita anut..hehe)
Jumat, 20 Desember 2013
Teori Cinta yang Keliru
Cinta begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari, muda, tua,
remaja, dewasa pasti pernah jatuh cinta. Banyak yang mengulas tentang cinta,
dalam novel, cerpen, film, sinetron, seolah tidak ada hentinya orang
menceritakan tentang cinta.
Banyak kata yang diumbar saat sepasang kekasih yang sedang
saling mencintai, atau lebih sering orang bilang kata-kata gombal. Dan
sepertinya kata-kata tersebut menjadi teori yang sering di salah kaprahkan dan
menjadi suatu hal yang keliru. Berikut
daftar teori cinta yang keliru :
1)
Cinta
itu Buta
Para pecinta menganggap bahwa cinta
itu buta, jadi ketika ditanya apakah kamu bahagia bersamanya ada beberapa
pecinta yg menjawab “Aku sebenarnya menderita bersama dia, tetapi aku mencintai,
sungguh sepertinya aku sedang terkena cinta buta”. Nah seolah-olah cinta buta
itu benar kan? Padahal yang namanya orang sedang menjalin sebuah hubungan ya
harus bahagia. Bahagia itu mutlak, jadi jelas teori cinta buta itu tidak bisa
diterima. Kalau orang buta aja jalan meraba-raba bahkan bisa juga menabrak,
apalagi orang yang sedang menjalin cinta dan dalam keadaan buta, sudah pasti juga
cintanya akan menabrak-nabrak juga wong mata hatinya sudah buta.
2)
Kita
sedang Mabuk Cinta
Banyak pasangan yang bilang kita
sedang di mabuk cinta, nah kata-kata mabuk kan artinya tidak sadar, hilang
kesadaran, hilang akal. Lalu apa jadinya kalau sepasang pecinta dilanda mabuk
cinta, berarti mencintainya dengan tidak sadar. Jangan-jangan kalau sudah tidak
mabuk hilang rasa cintanya..hehe bisa jadi kan?
Jadi alangkah baiknya saling
mencintai itu dalam keadaan sadar alias tidak mabuk. Biar ga sempoyongan gitu
cintanya, kayak orang mabuk sempoyongan kan jalannya, masa tar mau juga
cintanya sempoyongan..hehe
3)
Asalkan
Kamu Bahagia maka Aku pun Bahagia
Pasti kata-kata ini sering diucapkan
oleh siapapun, padahal faktanya saling mencintai itu berarti saling
membahagiakan, dan kata saling itu berarti satu sama lain harus bahagia. Jadi
akan dirasa sangat keliru kalau antara pasangan yang satu bahagia sedangkan
yang satunya tidak bahagia. Pasti yang bilang begitu lagi mabuk alias tidak
sadar, karena berani menyengsarakan dirinya sendiri. Dan teori ini sering
dikatakan oleh wanita, yang katanya para wanita itu kalau
menicintai itu pakai perasaan 99 % dan logika 1 %, sedangkan lelaki sebaliknya.
Jadi sepanjang menyimak tingkah laku orang yang saling mencintai yang banyak
frustasi kalau putus cinta itu adalah wanita, kenapa begini ya liat aja pikirannya, akalnya yang dipakai cuman 1 %. Entah sih teori ini siapa yang menciptkan, yang
pasti jelas kondisi tersebut sangat tidak sehat bagi otak dan hati. Tetapi ya
kasus seperti ini juga terjadi pada lelaki, tetapi mungkin lebih banyak wanita
(mungkin ya, belum ada data yang pasti mengenai ini, perlu sensus dulu kali
yaa, hehe) Jadi intinya menicntai itu harus saling, tidak bisa salah satunya
saja, intinya harus terjadi sebuah simbiosis mutualisme lah, kalau sudah
komensalisme apalagi parasitisme sebaiknya logikanya, pikirannya, akalnya lebih
banyak digunakan deh bagus ga sih kondisi kayak gitu.
4)
Cinta
itu tidak Perlu Alasan
Tanya deh orang yang lagi jatuh
cinta, atau sudah saling mencintai, “kenapa mencintai dia?” pasti jawabannya
“ga tau pokoknya aku cinta sama dia”. Lah ini sudah salah, bagiamana bisa
segala sesuatu itu tidak ada sebab akibatnya. Pasti yang bilang begini yakin
lagi mabuk, lagi buta sehingga tidak bisa merasa dan melihat sesuatu yang ada
pada pasangannya dan sesuatu itu dijadikan alasan kenapa dia mencintai
pasangannya.
5) Cinta itu Tak Harus Saling Memiliki
Apalagi teori yang ini sudah salah
kaprah sekali, mana bisa saling mencintai itu tak harus saling memiliki? Kata saling
itu sudah menunjukan kata jamak, jadi tidak mungkin kan mencintai itu objeknya
hanya 1 orang. Apapun bentuk cintanya rasanya saling memililki ini menjadi
penting deh.
Mungkin itu dulu teori-teorinya nanti disambung lagi,
kayaknya masih banyak deh kalau dicermati secara seksama dan khidmat..hehe
Itu cuman opini saja,
tidak harus percaya juga, nanti musyrik kalau percaya sama saya..:)
Tidak usah sepakat
juga kan ga lagi bermusyawarah, tetapi berpendapat boleh lah ya, kan ada pasalnya
toh..hehe
Senin, 21 Oktober 2013
Teknologi Pertanian yang Terabaikan
“Desa kami ada di atas, sedangkan
sumber mata air kami berada di bawah desa kami. Sulit sekali ketika musim
kemarau kami harus mengairi sawah kami. Jagung kami pun banyak diserang hama batang dan hama
tongkol” Begitu penuturan Bapak Hilarius Bano seorang petani sekaligus PPL
desa Femnasi kabupaten Timor Tengah Utara.
Peristiwa di desa Femnasi merupakan salah satu potret pertanian yang
sedang dialami Indonesia .
Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab yang dipersalahkan dalam penurunan
produksi pertanian di Indonesia .
Anomali cuaca yang tak menentu menjadikan musim kemarau yang lebih
panjang, akibatnya petani gagal panen karena kekeringan. Musim hujan pun
menjadi lebih pendek tetapi curah hujan tinggi, menyebabkan petani gagal panen
karena bencana banjir. Perubahan iklim juga mengakibatkan meledaknya hama penyakit yang
menyerang berbagai macam tanaman pertanian dan tanaman pangan.
Gencarnya isu perubahan iklim semakin hari menjadi topik pembicaraan diberbagai
kalangan. banyak hal yang telah di lakukan, tetapi problema ini tak kunjung
selesai. Apa benar perubahan iklim ini menjadi satu-satunya faktor menurunnya
produksi pertanian?. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan kondisi
pertanian saat ini, salah satunya yaitu teknologi pertanian.
Ironis, di tengah segala kemajuan teknologi yang pesat di negeri ini,
harusnya semua sektor pun ikut merasakan sentuhan teknologi untuk mengikuti
segala kecanggihannya. Namun berbeda halnya dengan sektor pertanian seolah-olah
kental dengan sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman.
Rasaya cara ataupun alat yang digunakan petani untuk bertani dari zaman
dahulu sampai sekarang sama saja. Padahal zamannya sudah beda, iklimnya pun
sudah berbeda, apakah bisa cara yang sama dipakai untuk keadaan iklim yang
berbeda?? Dahulu saja orang kirim surat ,
sekarang sudah zaman sms atau email. Apakah tidak bisa teknologi
pertanian semakin maju sama halnya dengan surat
yang berubah menjadi sms atau email?
Miris sekali negara yang disebut sebagai negara agraris, tekonologi
pertaniannya tebelakang. Harusnya kita iri dengan tekonologi sektor lain yang
semakin canggih. Kondisi petani saat ini ibarat prajurit yang melawan musuhnya
menggunakan bambu runcing sedangkan musuhnya menggunakan nuklir.
Dalih petani lah yang harus beradaptasi dengan iklim, maka upaya adaptasi
perubahan iklim harus diutamakan. Salah satu adaptasi yang harus ditingkatkan yaitu
teknologi pertanian. Jangan sampai sektor pertanian yang erat kaitannya dengan
kebutuhan primer manusia menjadi terabaikan
dan ternomor duakan.
Terkait dengan teknologi pertanian
berarti bicara pula dengan sistem produksi. Faktanya para petani di Indonesia
masih menggunakan ala-alat pertanian tradisional, mungkin saat ini pun masih
ada petani yang membajak sawahnya dengan kerbau. Bukan berarti yang tradisional
itu tidak benar, dan yang modern itu sesuatu yang benar. Bukankah suatu sektor
yang teknologinya maju akan semakin tinggi nilai tambahnya.
Fakta di atas relevan dengan
penuturan Y.Sukoco (1992) dalam bukunya berjudul Pertanian Masa Depan, yang
merupakan hasil terjemahan dari buku Farming
for The Future, An Introducion to Low Internal Input and Sustainable. Dalam
buku tersebut menyatakan bahwa “Sebagian
besar pengetahuan yang diterapkan para petani berasal dari pengalaman mereka
sendiri dalam bidang pertanian dan juga dari nenek moyang mereka serta sesama
petani. Melalui kegiatan penelitian dan pengembangan informal, meraka, petani
menghasilkan pengetahuan baru dan menciptakan teknologi baru.”
Ketika teknologi pertanian yang diciptakan
para petani melalui eksperimen informalnya diinovasikan dengan eksperimen
formal para para ilmuan, mahasiswa, ataupaun pemerintah pasti akan lebih
mumpuni menghadapi persoalan perubahan iklim. Dan bukan suatu yang mustahil kemajuan
teknologi pertanian bisa menjadi salah satu bentuk untuk adaptasi perubahan
iklim.
Berangkat dari permasalahan di atas misalnya, sumber mata air dengan
kemajuan teknologi bisa untuk di alirkan ke daerah yang lebih atas. Salah satu
teknik penyimpanan jagung pun bisa mengadovsi bentuk-bentuk teknologi seperti
rumah kaca, seperti yang telah dilakukan para petani di Villa Hutan jati,
Parung Panjang. Bukankah itu menjadi salah satu bukti bahwa teknologi pertanian
bisa dijadikan sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim.
Ketika teknologi pertanian bisa menjadi solusi, upaya inovasi teknologi
pertanian harus terus dikembangkan. Karya-karya peneliti dan mahasiswa bisa
jadi salah satu bentuk pengembangan. Bahkan pengalaman petani, atau cara turun
menurun dari nenek moyang pun bisa di inovasikan untuk menjadi lebih baik.
Masalahnya bukan belum ada teknologi pertanian di Indonesia , tetapi masih sedikit.
Kalau pun sudah ada, pemerataan petani untuk mendapatkan info teknologi masih
lemah. Hal yang terpenting setelah adanya
inovasi teknologi adalah pemanfaatan dan informasi teknologi pada seluruh
kalangan petani, baik itu petani kecil maupun buruh tani.
Sampai saat ini teknologi pertanian yang sudah ada terbatas pada kalangan
tertentu. Sehingga penting segala kebijakan pemerintah yang menyangkut
pertanian harus “pro petani”. Termasuk hak untuk mendapatkan informasi dan
teknologi baru pun mutlak harus didapatkan petani.
Masalah yang tak kalah penting selain inovasi teknologi pertanian, hak
petani untuk mendaptakan informasi teknologi pertanian adalah bentuk teknologi
pertanian. Bentuk teknologi pertanian tentunya harus yang ramah lingkungan.
Jangan sampai teknologi pertanian yang diusung menjadi salah satu upaya
adaptasi perubahan iklim menjadi penyebab timbulnya masalah baru.
Apapun yang diupayakan untuk merubah kondisi pertanian saat ini harus
mengedepankan sisi ekologi, agar ekosistem lingkungan tetap terjaga. Sehingga
keadilan iklim bisa terjadi dan petani pun menjadi sejahtera. Sudah saatnya
sektor pertanian tidak menjadi sektor yang termarginalkan. Bukankah jika
kondisi pertanian dan pangan kita aman, negara kita pun akan aman.
Merdu Suaramu, Merdu Hatimu....
Minggu, 22 Januari 2012
Langkahnya terdengar tuk tuk tuk, lalu terdengar petikan nada do do do re mi…
Ia pun berdiri di hadapan para penumpang dan bersuara ini lagu untuk anda semua
“Dalam hitam, gelap malam,
ku berdiri, melawan, sepi…
Disini, di pantai ini,
telah terkubur sejuta kenangan
Dihempas keras gelombang,
yang tertimbun batu karang,
yang tak kan mungkin, dapat terulang…
lalu jepreeeeet putuslah senar gitar yang Ia bawa, dengan santai Ia berkata “maaf para penumpang alat musik saya ada sedikit masalah, tapi saya akan terus bernyanyi..
Wajah putih, pucat pasi,
tergores, luka di hati
Matamu, membuka kisah,
kasih asmara yang telah ternoda
Hapuskan semua khayalan,
lenyapkan satu harapan
Kemana lagi, harus mencari
Kau sandarkan, sejenak beban diri
Kau taburkan, benih kasih, hanyalah emosi…
selesailah lagu Anggun C Sasmi Ia tembangkan, sungguh merdu suaranya, seisi bis pun hening dan seksama mendengarkannya. Begitu dengan aku, rasanya baru kali ini aku tak tertidur di dalam bis. Mungkin ini efek suara yang merdu bukan sembarang merdu, nyanyi asal nyanyi, tetapi inilah mungkin yang dinamakan menyanyi dari hati…Menakjubkan..
Ia pun bersuara kembali, berhubung masih sekitar 20 menit lagi kita sampai bogor saya akan membawakan sebuah lagu untuk anda, ini lagu terakhir dari saya dalam perjalanan jakarta-bogor kali ini..
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati Oh……..
Bayangmu seakan-akan …
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu oh…
Kau seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu Oh …
Kau seperti udara yang kuhela
Kau selalu ada, selalu ada, dan selalu ada
Yang selalu ada dan selalu ada …
Aku hanya bergumam “woww perfect, perfect”, dengan satu senar gitar yang putus, lagu tetap sempurna nadanya. aku yakin dia bukan sembarang pengamen, suara yang ikhlas, merdu, menyejukan, dan mampu menghipnotis para penumpang untuk sama sekali tetap memandangnya, memperhatikan setiap alunan nada yang ia petikan dari gitarnya. Ia pun bersuara kami, akhirnya kita sampai di Bogor , terimakasih atas perhatiannya, saya mohon maaf jikalau ada kata-kata, atau sikap saya yang kurang berkenan, semoga kita bisa berjumpa lagi dalam alunan nada yang saya tembangkan. Ia pun mengeluarkan kantong kreseknya dan sambil tersenyum lebar mengulurkannya pada penumpang. Fantastik, luar biasa, semua orang dalam bis antusias mengeluarkan rupiahnya, bahkan para penumpang tidak ragu mengeluarkan rupiahnya dalam bentuk kertas, bukan rupiah yang bunyinya cring, cring, cring jika bersentuhan satu sama lain.
Ia pun duduk dibangku paling belakang, menaruh gitarnya dan tak segan membantu kondektur untuk menurunkan penumpang. Aku pun menegurnya “permisi Pak suaranya bagus, mantap senar putus pun tetap berdendang tanpa ragu, hasilnya sama saja Pak, malah tambah bagus”. Ia pun menjawab “terimakasih dek, saya hanya menyanyi dengan ikhlas dan hati yang senang, bersyukur kalau suara saya dapat dinikmati dan tidak mengganggu”, jawaban yang menurutku merdu, ternyata bukan suaranya saja yang merdu tetapi hatinya.
to be continued..
(Lupa Email dan Password yg dulu, bikin baru sambil ngubek2 no HP Bapak Pengamen Hebat)
Nestapa = Bahagia
Nestapa serupa dengan kesedihan "membara" isi hati
Itulah yang lazim orang deskripsikan tentang arti nestapa
seolah nestapa bisa mencelakai mereka
seolah nestapa identik dengan muka suram para nestapa-er
konotasinya sangat buruk
menghancurkan, memilukan,
Ketika datang nestapa mereka berlara
Saat nestapa hilang mereka bersorak dan lupa pernah nestapa
Lain bagi jiwa-jiwa yang bersyukur
nestapa dijadikan ajangnya untuk berbahagia
Ketika nestapa datang mereka berpasrah
Ketika nestapa hilang mereka bertahmid
Ketika nestapa menjadi kenangan mereka Tertawa
Memang terdengar sangat absurd
Tetapi itulah cara mereka memaknai nestapa
seolah nestapa bisa mencelakai mereka
seolah nestapa identik dengan muka suram para nestapa-er
konotasinya sangat buruk
menghancurkan, memilukan,
Ketika datang nestapa mereka berlara
Saat nestapa hilang mereka bersorak dan lupa pernah nestapa
Lain bagi jiwa-jiwa yang bersyukur
nestapa dijadikan ajangnya untuk berbahagia
Ketika nestapa datang mereka berpasrah
Ketika nestapa hilang mereka bertahmid
Ketika nestapa menjadi kenangan mereka Tertawa
Memang terdengar sangat absurd
Tetapi itulah cara mereka memaknai nestapa
(Tulisan Januari 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)